Tirta Hudhi, Bersihin Sepatu Jadi Kerjaan Utama, Profesi Dokter Jadi Kerjaan Sampingan



tirta hadhi shoes and care

Kenalin nih, Tirta Hudhi. Dengan modal Rp 400.000, dia mampu membangun bisnis cuci dan rawat sepatu Shoes and Care (SAC) yang saat ini telah memiliki 20 cabang dengan 85 karyawan dan beberapa mitra di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Medan, Tangerang, Palembang bahkan ekspansi hingga ke Singapura. Hebatnya lagi, dia punya pekerjaan sampingan sebagai dokter umum di Rumah Sakit UGM di ringroad utara, Jogja.

hah, pekerjaan sampingannya malah dokter? kok bisa sih? Untuk mengetahui info detilnya, yuk, simak ulasan bagaimana bisnis uniknya itu bisa berkembang pesat.

1. Bisnis yang dijalani bisa kasih solusi praktis

jasa rawat dan cuci sepatu murah tapi berkualitas

Gara-gara Tirta bersama staf SAC, ribuan pasang sepatu kusam, kotor hingga buluk bisa bersih lagi seperti kondisi baru. SAC memberikan solusi yang telah lama diidam-idamkan semua orang yang ingin punya sepatu bersih dan awet namun tak punya waktu serta keterampilan khusus untuk merawat sepatunya.

Solusi disertai servis yang berkualitas memberikan nilai jual (selling point) yang unik bagi SAC. Sehingga kepuasan pelanggan pun secara sendirinya akan berbuah promosi secara mulut ke mulut. Karena itu, SAC akan semakin dikenal luas sebagai ‘jasa pembersih sepatu paling handal dan pertama di Indonesia’.

Jadi, wajib hukumnya untuk sebuah bisnis mampu memberikan solusi dan servis yang berarti bagi banyak orang.

2. Menjalani bisnis dengan perasaan hepi

A photo posted by Tirta Hudhi (@tirta_hudhi) on

 

 

Apa yang dilakukan pria kelahiran Surakarta pada 30 Juli 1991 ini bermula dari hobi yang nyeleneh. Dia suka sepatu yang bersih, dan suatu hari dia pun membeli cairan pembersih sepatu premium bermerek Jason Mark dari luar negeri seharga Rp 400 ribu per botol.

Bagi Tirta, harganya itu kemahalan kalau dibeli pakai uang sendiri. Karena itu, diajaklah teman-teman kost-nya untuk patungan. Untungnya, mereka juga setuju dengan ajakannya itu.

Sebuah ide akhirnya muncul, setelah melihat keterampilan Tirta saat membersihkan sepatu, salah seorang temannya mengusulkan agar hobinya itu dijadikan bisnis yang bisa menghasilkan uang. Tirta pun menanggapi ide itu dengan serius, dia merasa itu ide yang bagus. Dengan begitu, dia tak lagi memberatkan kedua orangtuanya untuk kuliah dan membeli buku kedokteran yang mahal.

Ada satu kejadian lagi yang meyakinkan dirinya bahwa  jasa bersih-bersihnya jadi benar-benar dibutuhkan.  Setelah Gunung Kelud meletus, sepatu-sepatunya di tempat kos dan sepatu penghuni kos lainnya, terbungkus debu vulkanik yang lumayan tebal. Alhasil, Tirta pun kebanjiran titipan cuci sepatu teman-teman sekostnya.

Dari kejadian itulah, Tirta Hudhi mantap untuk membuka jasa pencucian dan perawatan sepatu dengan harga terjangkau dan terbuka untuk semua jenis bahan sepatu.

Hanya dengan modal awal sebesar Rp 400.000 saja, usaha Tirta ternyata dapat berkembang dengan baik. Hingga akhirnya ia mendapatkan investor dari kawan ayahnya yang menanamkan modal sebesar Rp 25 juta rupiah.

Modal tersebut Tirta gunakan untuk membuka toko pertamanya yang terletak di Alun-alun Kidul Yogyakarta.

3. Dari servis yang memuaskan dan profesional, kesuksesan akan menyusul dengan sendirinya

shoes and care

toko diserbu pengunjung

Tirta melakukan peluncuran pembukaan tokonya pada pada September 2014 silam, bertepatan dengan acara ulang tahun Yogyakarta. Momentum istimewa itu dia manfaatkan untuk mempromosikan jasanya.

Sekitar 1.200 orang menyemut di depan tokonya sepanjang 200 meter. Sejak saat itu, ketenaran Shoes and Care semakin menanjak. Dalam tempo 3 bulan, dirinya sudah bisa balik modal. Keuntungannya pun dia bagikan 20% ke pemilik modalnya.

Dengan tiga karyawan saat itu, Shoes and Care hanya sanggup menangani 600 pasang sepatu dalam waktu tiga jam

Berkat kualitas pelayanan yang memuaskan, SAC juga dapat menggaet pelanggan dari berasal dari luar negeri, seperti Singapura, Australia bahkan hingga Belanda.

Ada pengalaman menarik saat dia menangani pelanggan dari Belanda, di mana ongkos kirim sepatunya lebih mahal ketimbang ongkos servisnya. Bayangkan, ongkos kirimnya 40 Euro sedang jasa servisnya hanya 10 Euro. Tapi karena kepuasan servis, harga rupanya gak jadi soal bagi orang Belanda itu.

Satu bukti lagi dari pelayanan prima SAC, Google Singapura pernah memberi penghargaan kepada Shoes and Care sebagai salah satu jasa yang paling banyak dicari di internet. Hebat bukan?

di Jakarta. Setelah merekrut tim yang cocok, ia membuka toko pertamanya pada Maret 2015 di ibukota di Jl. Mendawai 1, No. 78 A, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang buka Senin – Sabtu dari jam 13.00 – 20.00.

4. Sosial media gak cuma digunain buat promosisi melulu, tapi juga buat bagi-bagi ilmu! 

A photo posted by Tirta Hudhi (@tirta_hudhi) on


Tirta Hudhi juga mempromosikan Shoes and Care itu secara online, mulai forum jual-beli, lalu berlanjut ke Twitter dan Instagram dengan nama pengguna @shoesandcare.

Di berbagai lini sosial media itu, SAC gak cuma promosi jasa dan produknya tapi juga sering berbagi ilmu tentang tips membersihkan sepatu.

Tirta sama-sekali tak khawatir membeberkan ‘rahasia dapur’ Shoes and Care. Dia justru sengaja menunjukkan ke para pelanggannya, bagaimana proses servisnya dan produk pembersih apa saja yang dipoleskan ke sepatu mereka selama di Shoes and Care. Menurutnya hal ini akan meningkatkan kepercayaan para pelanggan.

Bahkan, kini Shoes and Care malah menyediakan layanan sambungan video call langsung ke ruang kerjanya agar pelanggan yang penasaran bisa melihat langsung proses servis. Pelanggan yang ingin datang langsung ke toko untuk melihat proses ini pun diperkenankan.

Alhasil, di luar ekspektasi, tips sekaligus foto-foto before after jasanya yang ia unggah ke akun-akun media sosialnya tenyata mendapat animo luar biasa dari netizen. Kolaborasi lebih berdampak positif daripada kompetisi.

5. Terus belajar, fokus dan terampil mengelola keuangan

A photo posted by Tirta Hudhi (@tirta_hudhi) on


Masih ingatkan, bisnis ini dimulai hanya dengan modal Rp. 400 ribu, lho? Setelah dimanfaatkan dengan baik sekaligus hasil servis yang memuaskan diketahui banyak orang, barulah dia mendapatkan investor.

Kelola operasional, cabang baru dan sukses mengembalikan dana investor tepat waktu gak akan terjadi jika Tirta gak fokus pada tujuan bisnis dan gak piawai mengelola keuangan.

Untuk membuka cabang baru, Tirta Hudhi harus pandai memutar uang hasil keuntungan dari outlet-outlet sebelumnya. Dengan cara inilah dia berhasil membuka banyak cabang tanpa harus melakukan pinjaman ke Bank. Diakuinya, mengembangkan bisnis dengan berhutang malah justru akan memberatkan.

Kebetulan juga saat itu Tirta sedang membutuhkan banyak biaya untuk membeli buku-buku kedokteran yang harganya memang mahal.

Dengan tarif jasa Rp 30-150 ribu, satu outlet Shoes and Care mampu meraup omset Rp 30-60 juta per bulan.

Kedepannya, di era MEA, Tirta Hudhi berencana untuk membuka outlet Shoes And Care di Thailand, Vietnam, Malaysia, Brunei dan negara-negara lainnya.

6. Banyak duit tapi gaya-nya selalu sederhana dan membumi

shoes and care

tampilan boleh sederhana, tapi otak dan semangat pantang menyerah harus ekstra luar biasa.

baginya, perputaran dana harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Jadi, urusan gaya dan apapun yang menunjukkan kesuksesan dirinya sih gak jadi prioritas.  Tirta mengaku masih berpenampilan sederhana dan  menggunakan motor keluaran tahun 2007 kemana pun ia pergi. Menurutnya, uangnya mending ditabung buat buka outlet lagi dan membeli kebutuhan kedokteran yang harganya mahal.

 

Source: Tribunnews Image via: Twitter & Instagram Tirta Hudhi

 

 


June 8, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin