Peselancar Beralih Menjadi Social Entrepreneur


Pulau Bali telah membuka satu pemikiran baru untuknya


Social Entrepreneur

Kyle Parsons adalah seorang peselancar yang gemar memburu  gelombang laut dari berbagai tempat di dunia kini beralih menjadi Social Entrepreneur. Semuanya diawali dari momen ketika berlibur dan memburu ombak di Bali yang telah membuka satu pikiran baru untuknya.

Di Bali ia melihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang harus berjuang mengatasi masalah polusi. Menurutnya, pegunungan ‘ban bekas’ seolah bersaing dengan keindahan pegunungan di negara ini, dan hal itu tak boleh dibiarkan.

Sejak itu, ia bertekad untuk menjadi social entrepreneur yang mengupayakan sesuatu hal yang dapat berkontribusi terhadap penanggulangan polusi. Dalam hal ini, ia memilih untuk mendaur ulang ban bekas menjadi kreasi sandal dan sepatu yang fashionable melalui brand yang ia namakan Indosole.

Sebenarnya inspirasi dari produk Indosole berawal ketika Kyle membeli sandal karya pengrajin Bali. Saat itu, ia langsung terkagum-kagum dengan apa yang baru saja dibelinya. Momen inilah yang membuatnya memutuskan untuk menciptakan produk sandal ramah lingkungan yang menggunakan bahan daur ulang dari karet ban motor tak terpakai. Dan dijadikanlah Bali sebagai pusat produksinya.

Kini produk Indosole juga terdiri dari pakaian dan aksesoris dari berbagai bahan daur ulang lain seperti karung goni, kulit pisang, tumbuhan dan material kulit non binatang. Semua itu telah diubah menjadi karya yang indah melalui proses produksi organik, bebas racun dan pengembangan keselamatan lingkungan yang berkelanjutan.

Social Entrepreneur

Kyle terus meyakinkan semua orang bahwa Indosole selalu berpegang teguh pada 3 acuan dasar dalam bisnisnya, yaitu ‘People, Planet, Profit’. Semua prosesnya juga memberikan pekerjaan yang bermartabat bagi banyak orang di Indonesia dan kebanyakan orang pun bangga mengenakan produknya.

Adam Braun, penulis ‘The Promise of a Pencil’ mengatakan bahwa Kyle tak seperti kebanyakan wisatawan yang hanya melakukan perjalanan ke suatu tempat, tapi ia justru mampu melihat sesuatu yang sukar dilihat orang lain. Ia dengan baik memanfaatkan kesempatan untuk menata kembali kehidupan dan perubahan sosial. “Tourists see, but travelers seek,” ungkap Braun.


February 24, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin