Kenapa Harus Ada Hari Buku?



kenapa harus ada hari buku?

image via: unsplash.com

Mengapresiasi buku sebagai sebuah warisan untuk generasi kini dan nanti sangat diperlukan. Karena itulah Indonesia dan seluruh dunia secara khusus meresmikan perayaan hari buku.

Hari Buku Internasional baru disahkan oleh Organisasi PBB UNESCO pada 23 April 1995 silam. Sedangkan, Indonesia lebih dahulu meresmikan hari peringatan ini bersamaan dengan dibangunnya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta pada 17 Mei 1980.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menjadi jawaban atas segala sumber referensi buku paling lengkap dan terbuka untuk umum kala itu.

Untuk menikmati ragam koleksi buku di Perpustakaan Nasional pengunjung hanya boleh membaca langsung di ruang baca. Karena, koleksi buku-buku tersebut bersifat tertutup dan tidak boleh dipinjam dan dibawa pulang oleh masyarakat.

Senada dengan Indonesia, Amerika Serikat sebagai negara adidaya juga begitu menghargai ilmu dan memperhatikan minat baca warganya dengan membangun Perpurtakaan Kongres Amerika Serikat (Library of Congress).

Perpustakaan yang berada di Washington, D.C tersebut berisi jutaan referensi buku dan kepustakaan terbesar di dunia. Lalu, ada juga perpustakaan terbesar lain, seperti National Library of Canada di Ottawa dan National Library of Cina di Beijing.

Hari Buku Nasional sendiri awalnya diharapkan menjadi peringatan berkesan guna meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Sayangnya, hingga kini harapan tersebut belum terwujud.

Hal tersebut merujuk pada temuan riset seorang pakar literasi bernama John W. Miller yang menjabat sebagai president of Central Connecticut State University in New Britain.

Dijelaskan bahwa negara sebesar Indonesia dengan jumlah penduduk yang berkisar 200 juta memiliki taraf minat baca dan melek huruf pada posisi ke-60 dunia.

Posisi tersebut masih berada di bawah negara tetangganya yaitu Singapura dan Malaysia yang masing-masing menempati posisi 36 dan 53. Sedangkan, posisi pertama dimiliki oleh negara Finlandia.

Penelitian Miller sebagai seorang analis literasi terbilang akurat. Ia telah menghabiskan empat dekade dalam hidupnya untuk meneliti literasi dari 60 negara. Salah satu temuan dari hasil risetnya yang menjadi referensi adalah America’s Most Literate Cities dari survei periode 2003 – 2014.

Perilaku melek huruf dan bacaan merupakan cara terbaik membangun peradaban bangsa. Karena itu dunia bersikeras meningkatkan minat baca umat manusia dengan berbagai cara.

Bahkan, pentingnya buku tertuang lewat penyataan negarawan Romawi Kuno, Marcus Tullius Cicero, life without book is like body without soul (kehidupan tanpa buku bagai tubuh tanpa jiwa).

Suatu ilmu pengetahuan tidak akan pernah terwariskan pada generasi selanjutnya jika bukan dari sebuah buku yang menjadi media lintas generasi.

 


May 17, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin