Gurihnya Keripik Singkong Logue Segurih Omzet Rp 20 Juta Perbulannya



keripik singkong logue

Kreasi makanan berbahan baku singkong selalu saja diminati oleh masyarakat Indonesia, keripik singkong salah satunya. Makanan ringan ini mungkin sudah diproduksi oleh ribuan orang selama bertahun-tahun, hebatnya tetap saja laris. Apalagi sekarang sudah makin banyak varian rasa keripik singkong yang asyik di lidah.

Dari fakta itulah dua bersaudara, Iqbal Adiasa dan Fahrial Zulfikar, terinspirasi untuk memulai usaha keripik singkong yang mereka namakan Logue di penghujung tahun 2013. Diakuinya, mereka memilih rumus kesuksesan ATM atau amati, tiru dan modifikasi sebagai dasar untuk mengembangkan usahanya.

Kini, mereka pun sukses dengan keripik singkong ciptaannya.

Dan inilah alasan mengapa keripik singkong Logue mampu berdiri di jajaran camilan keripik singkong populer di Indonesia walau hanya bermodalkan Rp 2 juta.

Pemilihan nama yang ikonik dan mudah diingat

Nama sebuah merek dapat mendukung strategi pemasaran. Keripik singkong kreasinya ini dinamakan Logue agar nama itu mudah diingat masyarakat.

Nama Keripik Singkong Logue membuat produsen dan konsumen jadi lebih dekat. Dengan nama yang populer, Logue akan mudah diingat. Sehingga masyarakat bisa merasakan produk ini sangat akrab dengan mereka.

Bahan baku terjangkau dan mudah didapat

Bahan baku singkong berasal dari supplier di daerah Bogor. Dalam sekali produksi, rata-rata dibutuhkan 80 kilogram singkong.

Untuk rasa cokelat, mereka mengolahnya dengan melelehkan cokelat compound hingga tercampur seperti rasa cokelat batangan. Dalam satu kali produksi, mampu mencapai 300 bungkus.

Mereka percaya, bisnis makanan dari kreasi singkong tak akan mati. Karena, selain terjangkau dan mudah didapat, singkong telah terbukti selalu menjadi camilan favorit masyarakat Indonesia. Tinggal bagaimana pelaku usaha mengemas dan meraciknya.

Nilai jual dapat dilihat dan dinikmati

Keripik singkong Logue tak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya bertahan tiga bulan setelah produksi. Hal itu karena Iqbal dan Fahrial ingin menjaga rasa tetap fresh.

Varian rasa yang unik, tanpa bahan pengawet dan dikemas dalam balutan papper bag yang menarik memberikan peluang strategis bagi Logue untuk diterima masyarakat penikmat camilan singkong.

Menurut Iqbal, tak masalah kalau menjalankan usaha karena terinspirasi dari bisnis yang sedang berkembang. Toh, inspirasi bisa datang dari mana saja. Dan kemiripan usaha yang dijalankan juga demi kelangsungan hidup yang mandiri. Meski begitu, sangat penting sebuah produk punya pembeda agar memiliki keunikan dan nilai jual sendiri.

Pemasaran produk mengandalkan sosial media dan situs online

Strategi pemasaran masih mengandalkan situs online, media sosial, dan pemasaran dari mulut ke mulut. Meski sederhana ternyata berhasil efektif.

Buktinya, Keripik Singkong Logue sudah punya pelanggan tetap di Jabodetabek, Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, Cilacap, Purwokerto, Pontianak, dan Sulawesi. Bahkan sempat ada pemesanan untuk ke Amerika Serikat walau tak berlangsung lama. Dan omzet rata-rata per-bulannya bisa mencapai Rp 20 juta.

logue keripik singkong ukmmarket

 


June 20, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin