7 Langkah Meredakan Konflik dan Ketegangan Kerja



work-tension-2

Image via: Yogasatilife.com

Perhatikan ilustrasi dari 2 situasi kerja ini:

Situasi 1:

Inez dan Roy adalah rekan kerja di sebuah perusahaan dengan jam kerja mulai puku 09.00 hingga 18.00. Roy biasanya tiba di kantor pukul 10 pagi, sedangkan Inez biasa tiba 1 jam lebih awal, yaitu pukul 9 pagi. Sejak tiba di kantor, Inez seringkali mengurus klien milik Roy. Bagi Roy, hal itu bukan masalah, karena dirinya pun komitmen akan menebus keterlambatannya dengan memundurkan jam pulang kerja menjadi pukul 19.00. Tetapi, klien Roy biasanya tidak menelepon dirinya setelah pukul 5 sore.

Inez marah dan frustasi dengan keterlambatan Roy yang kerap merepotkan dirinya. Amarahnya itu tampak dalam interaksi sehari-hari, bahkan juga terjadi  di ruang rapat.

Situasi 2:

Rivo dan Rey menjabat sebagai manajer sebuah perusahaan. Di hampir setiap rapat, mereka bertengkar. Mereka kerap memotong pembicaraan satu sama lain, saling mengkritik dan berkomentar. Hal ini bisa membuang banyak waktu yang harusnya difokuskan untuk membahas atau mencari solusi dari persoalan penting dalam bisnis.

——————————————–

Dalam kedua situasi ini, konflik hanya membuang banyak waktu, energi dan produktivitas. Namun, apakah situasi bisnis seperti ini jarang terjadi? Atau ini merupakan konflik eksklusif yang memang kerap terjadi di setiap perusahaan besar?

Jawabannya, Konflik akan selalu ada di sekitar kita, dan itu terjadi di setiap kantor untuk berbagai tingkat.

Jika Anda bertanya pada kebanyakan orang, tanggapan mereka atas situasi konflik ini dapat berkisar antara amarah, ketidakbecusan, curiga, antagonisme atau ketidaksukaan yang ekstrim. Umumnya mengarah ke pandangan negatif.

“Disayangkan, sebagian orang kerap menandai konflik sebagai sesuatu yang negatif, padahal konflik bisa menjadi sesuatu yang netral bahkan positif. Konflik hanya dapat didefinisikan sebagai ketegangan semata,” jelas Dr David G. Javitch, psikolog organisasi, spesialis kepemimpinan, dan Presiden Javitch Associates di Newton, AS.

Menurut Javitch, ketegangan bisa berarti baik, buruk atau netral. Hanya karena satu atau dua pihak tak setuju, bukan berarti pilihan atau pendapat mereka negatif atau ‘beracun’. Namun, jika kita membiarkan ketegangan itu terjadi tanpa penyelesaian tentu saja bisa menyebabkan ‘penderitaan’ yang membahayakan setiap peribadi dan perusahaan.

Kita setuju bahwa kebanyakan orang tidak menyukai konflik dan sebisa mungkin akan menghindarinya. Jadi bagaimana Anda harus berurusan dengan situasi konflik di tempat kerja Anda?

Berikut 7 metode yang diberikan Javitch kepada Anda.

Arahkan langsung

Ketika konflik muncul, Anda perlu membahas isu ini dengan pihak-pihak yang terlibat. Lalu, tekankan kebutuhan pada solusi terbaik. Jelaskan kepada mereka bahwa perasaan dan pikiran negatif dapat ditangani dengan cara yang tepat, yang dapat membuat mereka menjadi positif dan produktif.

Bicara dengan pihak terkait secara terpisah

Bicaralah kepada pihak terkait secara terpisah agar Anda mendapatkan perspektif yang akurat mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Arahkan pembahasan hingga mereka memberikan keterangan yang mengandung aspek emosional. Sehingga Anda juga dapat memahami karakter atau sifat mereka sekaligus pemicu situasi konfliknya.

Bahas bersama pihak terkait secara bersama

Hal ini akan memungkinkan mereka untuk berbagi versi cerita secara langsung dari kejadian atau isu konflik yang terjadi. Seringkali, langkah ini akan memberikan informasi terkait konflik yang tidak disadari oleh pihak lain.

Temukan argumen umum

Walaupun langkah ini menimbulkan kekhawatiran masing-masing pihak, dalam arti bila di luar mereka ada pihak yang mendukung ataupun tidak, namun hal ini penting. Ini akan menjadi dasar yang memungkinkan Anda untuk menjembatani kesenjangan yang memisahkan pihak yang terlibat.

Mendorong kompromi

Demi keberlangsungan kerja sama yang positif, setiap orang harus rela untuk sedikit  menyerah. Langkah ini mungkin memakan waktu cukup lama, karena disetiap pihak umumnya sudah tertanam sudut pandang sendiri. Tapi, setiap orang akan merasa sedikit lebih baik bila hal ini dilakukan.

Hadapi perasaan negatif

Perasaan dan pikiran negatif terkait konflik cenderung bertahan, dan mungkin akan menimbulkan konflik berulang di kemudian hari. Begitupun saat proses penyelesaian ini berlangsung. Untuk itu, Anda perlu piawai menghadapi perasaan negatif selama memimpin proses ini. Bagaimanapun, Anda telah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk hal ini, belom lagi ditambah dengan urusan bisnis yang juga selalu ‘haus’ akan perhatian.

Selalu positif

Putuskan untuk mengatasi konflik di masa mendatang dengan cara positif. Anda adalah role model bagi karyawan Anda. Mulai dari cara berpikir, mengatur strategi dan bertindak, termasuk juga dalam menyelesaikan suatu persoalan yang terjadi.

> Baca Juga: Lakukan Ini Untuk Membuat Karyawan Penting Anda Loyal 

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda yang selalu bersemangat mengembangkan bisnis sekaligus kebaikan bagi seluruh staff Anda.


March 3, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin