5 Penghambat Perkembangan UKM



Penghambat Perkembangan UKM

Hambatan yang kerap dialami pelaku UKM banyak disebabkan oleh ulahnya sendiri. Sayangnya hal ini seringkali tak disadari.

Hal ini kerap terjadi karena pelaku bisnis kurang menggali informasi dan keliru dalam menentukan pilihan yang tepat untuk kemajuan usahanya. Alhasil, bukannya berkembang tapi malah mengalami banyak kerugian yang mengancam kelangsungan bisnisnya.

Bila Anda mengalami situasi bisnis seperti ini, berikut adalah berbagai faktor tak menguntungkan yang harus segera Anda sadari.

1. Kurang beradaptasi dengan perkembangan teknologi

Di era globalisasi ini, semestinya internet tak lagi menjadi  sesuatu yang mewah bagi masyarakat Indonesia. Sayang kenyataannya tak begitu.

Dalam lingkup UKM, masih banyak pelaku usaha yang belum menggunakan layanan teknologi ini untuk mengembangkan bisnisnya. Hal ini terjadi lantaran kurang memahami dan menguasai kemampuan berinternet. Sehingga, upaya mempromosikan produknya pun tidak efektif, bahkan bisa dibilang tak berjalan.

Padahal, di era ini, pelaku usaha harus mumpunyai strategi memasarkan produk secara online agar memiliki daya saing. Di luar persoalan ‘gagap internet’, umumnya para pengusaha pun masih melakukan proses produksi secara tradisional, belum bisa memanfaatkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

2. Minim inovasi

Ketika telah berhasil mendulang keuntungan, seringkali pelaku UKM lupa bahwa inovasi itu mutlak diperlukan agar mereka bisa mengembangkan bisnisnya dalam beragam pilihan produk. Inovasi juga dibutuhkan agar bisnis selalu relevan bagi konsumen.

Dengan begitu, bisnis pun berpotensi lebih banyak mendatangkan keuntungan. Padahal, dalam dunia bisnis yang terus berinovasilah yang punya potensi kuat untuk menjadi pemenang. Tanpa inovasi, produk pun semakin ringkih untuk menahan tekanan dari para pesaing.

3. Mengiyakan semua tawaran bisnis

Kekeliruan ini juga kerap dialami oleh para pemula. Semestinya, ada beberapa hal yang perlu ditelaah sebelum mengambil semua peluang yang ditawarkan. Cermati dulu dengan benar, apakah tawaran tersebut bisa ditangani dengan kondisi aktivitas bisnis saat ini?

Bila tenaga kerja, waktu dan kapasitas produksi masih terbatas, pandai-pandailah memilah mana tawaran yang potensial serta mana yang hanya akan menyita waktu dan ‘mengancam’ quality control  bisnis.

Milikilah  perencanaan yang matang, lakukan survei dan riset tentang jenis tawaran itu, lalu pertimbangkan kembali positioning produk Anda.

4. Sendirian Mengelola Bisnis

Sebagai entrepreneur, ‘godaan’ untuk mengelola dan mengendalikan bisnis secara penuh seringkali menghampiri. Rasanya, segalanya  ingin dikerjakan dengan caranya sendiri. Imbasnya, fokus untuk mencapai target yang telah ditetapkan kerap buyar di tengah jalan.

Agar hal itu tak menimpa Anda, sebaiknya delegasikan beberapa tugas kepada orang lain, bisa itu bawahan atau rekan kerja. Pendelegasian tugas akan sangat membantu untuk bekerja lebih efisien.

Kapabilitas kerja dan pengetahuan juga semakin berkembang bila terjalin kerja sama serta komunikasi yang baik bersama orang-orang yang Anda libatkan dalam bisnis tersebut.

5. Malas Belajar

Untuk meraih kesuksesan berbisnis tentu juga harus ‘membaur’ dengan beragam informasi global maupun info terkini seputar lingkup bisnis yang sedang dijalankan. Sayangnya, banyak pelaku UKM tak melakukan itu. Mereka hanya terlalu fokus pada aktivitas produksi namun melupakan berbagai materi baru yang sebetulnya sangat mereka butuhkan untuk mengembangkan usahanya, misalnya tentang strategi pemasaran.

Ingatlah bahwa dalam berbisnis Anda juga perlu terus belajar dan belajar. Beragam informasi baru yang hadir setiap hari ‘menebar’ beragam inspirasi. Sambutlah hal itu agar keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola usaha kian meningkat dan mendukung perkembangan bisnis Anda.

 

Selamat berintrospeksi, semakin tangguh UKM Indonesia!

 


February 2, 2016 @ 3:08 PM

WRITTEN BY admin